Home > Berita > “Siapa Mop Lantai, Nanti Dapat Upah”, Pengajaran Sebegini Adalah Salah, 4 Faktor Ini Menjadi Sebab, Mengapa Beri Upah Adalah Langkah Yang Kurang Berkesan

“Siapa Mop Lantai, Nanti Dapat Upah”, Pengajaran Sebegini Adalah Salah, 4 Faktor Ini Menjadi Sebab, Mengapa Beri Upah Adalah Langkah Yang Kurang Berkesan

facebook LIKE UTK TERIMA UPDATE TERKINI & KLIK [X] UTK TUTUP --> Button Close

Like kami di facebook untuk menerima update terkini terus ke wall facebook anda.

"Mak, adik dah sapu lantai, upah mana?", "Siapa cuci piring, abah bagi upah.", Ada saatnya hal seperti pernah dilakukan oleh kita dalam 'mengajar' atau 'melatih' anak-anak untuk tolong kita lakukan sesuatu hal.

Namun begitu, apakah wajar kita memberikan mereka upah, atau 'allowance' dengan bantuan, juga pekerjaan rumah yang dilakukan oleh mereka?

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, melalui kemitraan dari situs Happily Family anak-anak tidak harus diberikan upah setiap kali mereka melakukan pekerjaan rumah (chores). Mari kita baca apakah sebabnya.

1. Tidak efektif untuk jangka panjang


Penelitian membuktikan bahwa, jika anak-anak atau orang dewasa diberikan imbalan jika mereka melakukan sesuatu, atau melakukannya dengan baik, mereka terlihat kurang berhasil untuk melakukan tugas yang lain. Siswa lebih banyak belajar jika tidak disuruh untuk mendapatkan 'A'. Imbalan tidak efektif dalam meningkatkan kualitas bekerja atau belajar.

2. Hanya lakukan jika diberi imbalan


Sebagai contoh, jika kita berikan upah untuk mencuci kamar mandi, mereka akan lakukannnya selagi kita memberikan upah atau imbalan, tapi jika kita menghentikan melakukannya, anak-anak tidak akan melakukan tugas tersebut.

3. Imbalan jadikan diri berlawanan


Ketika anak-anak di berikan imbalan, karena mereka bersikap baik terhadap teman-teman yang lain. Anak-anak tidak merasakan yang diri mereka yang sebenarnya adalah 'baik', dan tidak akan mengulangi perbuatan tersebut pada masa akan datang.

4. Lakukan bukan sebab suka, tapi sebab imbalan


Ada penelitian yang dilakukan, yang mana semakin banyak imbalan yang diberikan, semakin kurang mereka tertarik untuk melakukan sesuatu itu secara sukarela, selain untuk mendapatkan imbalan.

Seperti kita, jika minat dengan musik, kita akan lakukan dengan gembira, bukan atas dasar paksaan.

Jika kita tidak latih mereka dengan imbalan, anak-anak akan berpikir yang bantuan tersebut, dapat meringankan tugas orang tua, dan mereka akan senang melakukannya, sebab dapat tolong ibu dan ayah.

Secara keimpulannya, memberi anak-anak 'allowance' adalah salah satu kontribusi keluarga kepada mereka. Dan anak-anak lakukan pekerjaan rumah (chores) juga, adalah salah satu kontribusi mereka terhadap keluarga.

Tapi, jangan berikan upah hanya karena mereka lakukan pekerjaan rumah tesebut, tetapi anak-anak dapat upah karena mereka merasakan sikap tanggung jawab terhadap keluarga, dan alasan mereka menjadi diri sendiri, bukan atas dasar upah tesebut.

Siakap Keli

Artikel Yang Mungkin Anda Minati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *